back to main page

Hei Sindhu


Hai Niko, apa kabar, kamu?
12 Oktober bulan depan, genap 4 tahun sudah kamu bersamaku. Masih ingat, tidak bisa tidur semalaman demi menunggu kehadiranmu di stasiun esok paginya. Senyumku pegal-pegal. Bela-belain pinjam mobil. Menerka-nerka rupamu --karena aku menolak untuk cek dulu fotomu dari opa Sentot. Membayangkan segala kemungkinan kondisimu.



Masih teringat wajahmu ketika kujemput dan sampai di rumah, mencerminkan kelelahan dan traumatika perjalanan panjang. Sirkulasi udara, asap kotor. Suara mesin kereta. Mengerti perasaanmu yang tidak diterima selama perjalanan oleh beragam manusia, menganggapmu tak ubahnya onggokan barang. Dehidrasi. Namun bagaimanapun, kondisimu baik. Aku kegirangan setengah mati.

Niko. Permukaan perutmu berkutu laba-laba 5-7 ekor, juga basah oleh kencing ketakutanmu sendiri. Kamu, si Kintamani berumur 3,5 bulan, kakimu kecil-kecil tidak seperti ayahmu yang heboh di album foto-foto milik Opa Sentot. Tulangmu kurus-kurus seperti tulangku. Yang seperti kamu ini sukanya dibilang Kintamani ‘kancil’ oleh kami para penyuka Kintamani karena perawakanmu. Warna bulu di kakimu bintil-bintil coklat muda. Alismu turuncemas. Caramu duduk masih mirip mbokku dulu kalau sedang memijati kaki ibuku. Lucu sekali. Masih ingat senyumku yang lebar tidak sedikitpun surut seharian itu. Kamu masih tampak cemas saat itu. Tapi aku pede sekali kalau kamu pun pasti akan senang memilikiku; sang master-mu.

Warnamu krem, tidak seperti kakak-adik-ibu-ayahmu yang putih --sama sepertiku, berkulit lebih gelap dibanding kakak-adik-ibu-ayahku. Jadi sentimentil, rasanya sampai terharu memiliki mahluk kecil ‘entah-apa’ seperti kamu ini. Masih terasa di dada, sesaat itu juga di rumah, pertama kali sekali aku mengangkatmu tinggi-tinggi sampai batas panjang lenganku, membisikimu, "...mulai detik ini, nama kamu Sindhu..".

Hai Sindhu.
Masih menggaung di telingaku gonggongan pertamamu. Dengusan. Tangisan pertamamu, mungkin karena rindu tempat lahirmu, atau karena takut kepadaku. Masih ingat rasa gigitan pertamamu di urat-urat lenganku, terutama di waktu-waktu proses mem-berdiri-kan telingamu. Sekujur tanganku perih-perih. Masih ingat gigi susumu yang belum tanggal, lalu pada waktunya, jatuh di teras depan di suatu malam, tapi sayangnya keburu hilang, tidak sempat kusimpan. Begitupun bulu-bulu halus pendek pertamamu yang belum berganti, masih ingat rasanya di pipi. Perlengkapan menggambarku yang hancur kamu gigit-gigit. Kacamata. Sofa. Remote TV. Sendal. Sepatu. Tidak terhitung jumlah tali leash dan kalungmu yang kamu hancurkan.

Masih seperti kemarin rasanya, pertama kali kamu sudah mulai terlihat membutuhkanku. Terasa sekali, kamu pun menyayangiku sebagaimana aku terhadapmu. Tidak peduli kamu sering mengabaikan perintah-perintahku. Kamu yang semau-maunya sendiri, mirip sekali sepertiku. Tidak pernah terpisah lebih dari 4 hari selama 4 tahun kurang ini.

Sindhu si keplek pendengus, si penyayang ayam, kucing, kelinci, burung. Masih ingat sekali November 4 tahun yang lalu saat pertama Dog’s Day Out Indonesia muncul di kepala. Gagasan yang muncul karenamu. Semangat yang sebelumnya tidak pernah aku miliki seumur hidupku. Kamu selalu menjadi subjek pemberat utama soal bertambah dan berkurangnya orang-orang yang aku kenal dalam 4 tahun terakhir kehidupanku --baik sebagai kawan maupun lawan. Mendorongku untuk sering-sering mengepel lantai rumah. Menjemur kain-kain. Menjadi satu-satunya alasan untuk melatih kakiku dalam setiap perjalanan jauh. Kamu si ninja. Pagar tinggi kamu lompati. Tembok tipis berduri kamu langkahi. Lubang kecil pada tembok pun bukan masalah untuk kamu lalui. Kamu ini memang suka sekali bertualang.



Mahluk anjing pertama yang pernah ada di sekitar keluargaku. Kamu tidur di kaki mami saat bunyi-bunyi petasan lebaran menderu di sekitar depan rumah. Kamu selalu benci suara petasan, sampai berkali mengencingi selimut, sprei, karpet. Kamu selalu bersembunyi di pelukanku. Kamu, mahluk berbulu pertama yang pernah lelap di samping om Deni yang sedang tidur. Pengalaman pertama bagi om Betet, om Rinal, tante Mutia, om Dimas dan lain-lainnya di mobil atau motor mereka yang aku dan kamu tumpangi.

Sindhu si babat --nyanyian konyolku selalu, yang muncul begitu saja dari mulutku. Kamu si babat, Tidak pernah berhenti memberiku semangat dengan pandangan sayu mata almond-mu yang hitam pekat. Gigitanmu yang sarat akan tamparan untuk aku selalu dan selalu bisa terus bangkit di kala terpuruk. Melatih jantung dan paru-paruku yang kotor, seluruh otot syarafku untuk selalu bergerak. Tidak pernah berhenti berpikir, belajar. Kamu, menjadi saksi hidupku selama 4 tahun terakhir. ‘Cerita-cerita lalu’. Dan yang kini berjalan. Penuh makna. Harapan. Rencana. Mimpi.

30 Juni 2013, hei serigala kecil, genap 4 tahun umurmu. Sindhu si Sindhu. Sahabat terbaikku. 2013 menjadi awal tahun harapan besar bagiku untuk masa depan kita. Bagi tante Mayang. Bagi kamu. Ya, Masa depan kita bertiga. Beserta juga teman-teman kecilmu yang lainnya, si 6 ekor krucils. Para klan babat. Sindhu si babat.

Tanggal 6 dan 8 Agustus adalah kali terakhir kami bertemu denganmu, berbagi rasa.





 
Sindhu. Nama yg sebenarnya akan aku berikan kepada anakku nanti. Namamu. Mungkin kamu merasa bahwa kali ini tugasmu sudah benar-benar selesai ya, Sindhu? Tidak ada lagi sekiranya sebuah kata ‘perpisahan’ untukku, master-mu. Mungkin, merasa sudah waktunya kali ini namamu diabadikan kepada anakku nanti? Ya, mungkin kamu sudah merasa sangat lelah dengan makna ‘pisah’. Kamu jenuh, muak. Aku bisa mengerti. Kamu, si serigala kecil melankolis, mungkin tidak ingin lagi merepotkanku. Tidak ingin lagi menahan-nahan aku untuk mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, satu kota ke kota lainnya. Mungkin, kamu mendengar percakapan kami berdua akhir-akhir ini. Semakin mengerti mimpi kami berdua. Kamu tidak ingin kami berdua berpisah. Mungkin. Kamu akan menjadi sangat sedih jika kami berdua melihat secara langsung kepergianmu. 

......atau mungkin, aku salah. Kamu memang hanya pergi begitu saja. Ada orang jahat yang melukaimu seperti kata tetangga-tetangga. Lalu kamu pergi. Hanya begitu saja. Atau, mungkin kamu jenuh menganggapku sebagai master-mu. Kamu benci aku, Sindhu? Jangan-jangan, mungkin, aku hanya terlalu melankolis saja.

Ah.. Sindhu. Aku tidak peduli dengan semua itu.

Sindhu. Aku tidak peduli berada dimana tepatnya dirimu telah dikuburkan di tanah lapang itu. Aku kepanasan, cuacanya terik sekali lho. Berkeringat. Nafasku luar biasa tersengal tanpa henti. Perasaanku kacau balau kalau kamu mau tahu. Tante Mayang pun menunggu di rumah dengan Bonjo, tidak sanggup menemaniku untuk mencarimu, air matanya terlalu deras. Aku bongkar lapis demi lapis tanah yang katanya menguburmu.

Hingga aku yakin mendapati tapak dan jari kakimu. Ujung bulu ekormu. Kakimu. Kalungmu. Demi Tuhan, Sindhu, perasaanku hancur sehancur-hancurnya.

Kamu tidak pantas tidur disitu, itu bukan tempatmu. Aku tidak peduli beratmu. Pandanganku yang mengabur, langkahku yang sempoyongan menggendongmu. Mentalku yang luar biasa jatuh. Peluhku. Air mataku yg tertahan. Nafasku. Kedua sekujur tanganku yang berat bukan kepalang, kembali menggali lapis demi lapis tanah di pekarangan tempat terbarumu. Tempat baru kita. Tante Mayang kembali memandikanmu seperti dua minggu yang lalu. Kamu kembali wangi bayi. Si babat wangi bayi. Aku tidak pernah merasa sesedih ini seumur hidupku. Mungkin karena keluargaku masih lengkap. Kamu. Kamu mahluk pertama yang berhasil meninggalkanku seperti ini. 

Sindhu. Kamu tertidur dengan sangat pulas. Manis sekali. Tubuhmu tetap hangat. Tidak bau dan kaku seperti waktu aku mengubur Choko dulu. Hanya, lidahmu memang membiru. Terlebih, bulumu menjadi kembali lembut dan segar setelah mandi, seperti waktu terakhir aku memelukmu. Seperti waktu tante Mayang menciummu. Hingga tanah terakhir yang menimbunmu, peristirahatanmu yang kuharap jauh lebih layak bagimu.



Hei Sindhu.
Rasanya seperti baru kemarin kamu hadir di hidupku, tidur di pangkuanku, kamu, si Kintamani kancil. Hari ini, genap 1 bulan sudah kamu pergi ke surgamu. Bertemu Choko. Lola. Beevi. Siapa lagi? Kamu masih ingat teman-teman masa kecil di Dog’s Day Out Indonesia yang sudah mendahuluimu dulu kan, Sindhu? Oh ya, kamu tahu, tidak? Keinginanku terkabul lho. Kamu pergi lebih dulu. Tidak dapat kubayangkan perasaanmu jika suatu hari nanti kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.

Ah Sindhu. Berasa masokist. Seharusnya dog-lover sepertiku ini sudah siap dengan hal-hal seperti ini, bahkan, dari awal aku memilikimu. Benar-benar tidak menyangka rasanya begini. Jejak tapak kaki kotormu masih tertinggal di teras, bekas hujan kala itu. Beberapa helai bulumu pun masih ada di pakaianku. Hingga detik ini.

Kamu memang si Sindhu si babat si iseng. Terimakasih untuk 4 tahun kemarin. Dan maafkan segala kekuranganku dalam mengurusmu. Surat ini aku kubur juga bersamamu ya, bersamaan dengan sprei, handukmu, makanan kering dan makanan kaleng kesukaanmu. Aku dan tante Mayang janji, tidak akan mau mengecewakan lagi. Akan kami bawa kamu kemanapun kami tinggal nanti, walaupun kamu hanya sebentuk belulang atau sejumput debu. Kami akan terus bersamamu. Peluk hangat dari kami berdua. Serta Bonjo, Benjo, Pingu, Veejay, Jollie, Luna, Torako. Teruslah bermain.

Kamu, jangan bosan untuk selalu mampir.
Rindu. Rindu sekali. 
















Bandung, 11 September 2013.
T.A. Putra

No comments:

Post a Comment