back to main page

"KINTAMANI; Anjing Ras, Anjing Kampung"



"Semua anjing adalah anjing kampung..."


Sindhu namanya. Adalah seekor Kintamani, anjing pertama yang pernah saya miliki hingga saat ini, selain Toto, seekor Pomeranian yang suatu kali pernah saya dapatkan dan pelihara sementara, milik seorang teman dekat saya.

Lahir tanggal 30 Juni 2009 di Prigen, dengan nama asli Niko von Balinese Dog di bawah pengawasan Bpk. Sentot Sardjono selaku pemilik "Balinese Dog Kennel" yang telah mendalami Kintamani selama belasan tahun -semenjak kennelnya tersebut belum diresmikan.

Huruf "N" pada nama aslinya menandakan periode waktu kelahiran dari abjad "A", yang hingga sampai di abjad "N" untuk "Niko", artinya kennel tersebut telah memuliabiakkan trah ini sebanyak 14 'periode tercatat' dalam kurun waktu 2 tahun; dengan materi indukan awal 4 ekor pejantan & 7 ekor betina.

ANJING KAMPUNG

"wah, anjing kampung bagus juga ya...", "ada ya anjing kampung se-oke ini...?", "..oh, anjing kampung diikutin juga di dog-show?", begitu kira-kira pendapat sebagian banyak orang tentang Kintamani. Baik kepada saya, seorang hobiis amatir. Maupun kepada para profesional hobiis fanatik anjing Kintamani.

Betul sekali. Anjing Kintamani memang anjing kampung.

Berasal dari Sukawana, distrik Kintamani. Jauh dibawah keturunan Chinese Chow-chow dan anjing-anjing lokal lainnya, secara visual, hingga saat ini seringkali orang tetap saja samar membedakan antara anjing Kintamani dengan "Balinese Street Dog" (sebutan untuk anjing independent yang jenisnya tidak dikenali di Bali).

Sama halnya dengan bahkan Chow-chow sekalipun yang diakui sebagai salah satu anjing ras termurni; Chow-chow adalah anjing kampung, tapi dari China. Begitu juga dengan Chihuahua, sebagai anjing kampung, tapi kampung di Meksiko. Di bawah keturunan Nordic Spitz, Pomeranian dan juga Rottweiler berasal dari kampung yang tapi-nya di Jerman. Samoyed juga salah satu anjing ras termurni yang berasal dari kampung, tapi kampungnya di Rusia.

Kintamani, sudah barang tentu merupakan anjing kampung yang tanpa ada tapi-tapian, berasal dari kampung di Bali, Indonesia. Jadi, anjing Kintamani memang betul-betul anjing kampung, atau, kalau boleh dibilang, adalah anjing pegunungan. Lebih tepatnya, karena dia Indonesia, dan kita juga Indonesia, jadilah kita bilang dia 'kampung'.

Pada kenyataannya, semua anjing adalah anjing kampung, sesuai dengan pernyataan saya di awal tulisan ini.

ANJING RAS

Russian Samoyed dan Chinese Chow-chow adalah anjing ras. Silsilahnya tercatat. Demikian German Miniature Pinscher, yang secara artificial telah dimuliabiakkan oleh para pecinta fanatik German Doberman Pinscher, silsilahnya ada dan tercatat. Terlepas dari detil tidaknya catatan yang ada -bahkan pada federasi kinologi dunia sekalipun; yang pasti, sejarahnya telah dituliskan. Keturunannya terbuktikan. Jenisnya telah di-'ras'-kan.

Alaskan Malamute, English Bull Terrier, Dutch Keeshond, Italian Volpino, French Basset Hound hingga Thai Bangkaew, dan sekitar 400 lebih ras lainnya; entah murni atau tidak, detil atau tidak catatan moyangnya, yang pasti, silsilahnya tertulis. Keturunannya terbuktikan. Jenisnya telah di-'ras'-kan.



KINTAMANI


Demikian Kintamani; moyangnya ter-telusuri. Garis silsilahnya terbaca. Keturunannya semakin terbuktikan.

Betul sekali. Anjing Kintamani adalah anjing ras.

Tersebut, PERKIN (Perkumpulan Kinologi Indonesia); badan federasi lokal-internasional yang akhirnya di tahun 2006 telah menetapkan keputusan tersebut, ditambah peran serta para kennel terkait dan hobiis fanatik anjing Kintamani, setelah bertahun-tahun mengupayakannya. Terlepas dari segala yang pernah terjadi di dalamnya, kenyataannya, dedikasi atas ras ini telah terbuahkan.

Tentunya diperlukan standarisasi untuk mencapai ke-'ras'-an Kintamani -jika tidak ingin dikatakan ke-'asli'-an. Bukan semata-mata bermaksud untuk terlalu mengkerucutkan spesifikasi jenisnya, toh, standarisasi tetap akan diperlukan untuk bisa mendapatkan pengakuan tertulis dari badan federasi internasional-dunia. Bagaimanapun, secara lisan, internasional telah mengakui bahwa Kintamani adalah anjing ras asli Indonesia.

Dalam hitungan periode, tahun, atau mungkin perlu dekade pendek -itu bukan yang terpenting. Yang pasti, cepat atau lambat Kintamani akan dapat disejajarkan dengan populeritas anjing ras dunia seperti British Golden atau Labrador Retriever.

MIXED-BREED

Sederhananya, anjing bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu "Anjing Ras" dan "Anjing Mixed-breed", "Crossbreed" atau "Mongrel".

Para hobiis yang paham mengenai perbedaan ini umumnya menyebut 'kampung' untuk semua anjing mixed-breed, walaupun silangannya adalah ras German Great Dane dengan German Shepherd sekalipun.

Sebaliknya, sudah sewajarnya jika seorang awam atau hobiis amatir mengira
seekor Black Hungarian Puli atau American Chesapeake Bay adalah anjing kampung hanya karena visualnya yang cenderung kumal. Kehadirannya menjadi awam hanya karena namanya asing terdengar dan kepemilikannya pun langka di Indonesia.

SINDHU

Saya pribadi, bukan termasuk orang yang sangat-amat fanatik kepada ras Kintamani, apalagi termasuk hobiis profesional. Setidaknya, belum sampai seperti itu.

Saya penggemar Spitz dog; turunan termirip dengan serigala dari segi visual.
Termasuk di dalamnya Korean Jindo, Russian Samoyed, Japanese Akita, Siberian Husky, Sweden Norrbottenpets, Finnish Karelian Bear, dan Spitz
lainnya. Bahkan jika memang memungkinkan dari segi finansial (dan mungkin juga mental), saya akan lebih memilih serigala abu-abu atau putih sebagai companion-pet.

Kintamani termasuk Spitz dog. Tepatnya, Asian Spitz, disamping kategori Working & Primitive dog.
Muncul kebanggaan pada diri saya ketika saya memiliki companion-pet yang bisa saya tunjukkan sebagai bagian dari 'produk asli' Indonesia; terlepas dari moyangnya yang berasal dari China.

Jika dibandingkan dengan para Kintamani juara di atas panggung dog-show, Sindhu bukanlah sosok yang sempurna dari segi anatomi dan proporsi tubuh, serta juga warna bulunya.

Terlepas dari itu, perwujudan dari seekor anjing kampung; Sindhu,
seekor anjing ras Kintamani -akan menjadi a perfect companion-dog, walaupun itu hanya untuk saya sendiri, dan kelak, untuk keluarga saya suatu hari nanti sampai di batas umurnya.




Untuk Endira, yang tanpa sengaja telah 'mengenalkan' Kintamani.
Untuk Monika, yang bersemangat menemani sebagai amatir hobiis.
Untuk Hendra, yang rela meminjamkan waktunya.
Untuk Beatrice, yang telah membagi ilmunya seputar Kintamania.
Untuk Opa Sentot von Balinese Dog.
Untuk Sally dan si serigala kecil, Toto -Bombom von Teluk Gong.
Untuk Sindhu -Niko von Balinese Dog.





Tommy Aditama Putra. Seniman.
Bandung, Oktober 2009



* * * * *


_____________________________
Referensi:
Catatan, dokumen pribadi. Obrolan, diskusi santai. Artikel, dokumen lepas.

Imej & link situs / blog terkait:

Catatan kecil,
"KINTAMANI; Anjingku, anjingmu". 2010.
"KINTAMANI; Anjing Ras, Anjing Kampung". 2009.

Tommy Aditama Putra I Multiply I Facebook

Untuk Keni, terimakasih untuk fotonya, suatu sore di "rumah dongeng" bersama Sindhu.


No comments:

Post a Comment