Malam itu cahayanya kuning temaram, aku berjalan bersama anjingku. Bersama denganku, segerombol kecil anjing lain beserta masternya. Saat itulah terdengar lolongan seekor anjing dari arah kegelapan pepohonan. Lolongannya tinggi. Sekilas terdengar mengancam. Tapi tidak, kuyakini lebih terdengar seperti kegembiraan. Seperti memanggil.

"Ada seekor anjing kampung", begitulah kami memanggilnya.
Begitu senangnya, ia lompat dari anjing satu ke anjing yang lainnya dengan kaki-kaki mungilnya. Ekornya bergoyang cepat. Lompatan-lompatan kecilnya mengungkapkan sudah cukup baginya jika hanya moncongnya saja yang dapat mencapai moncong-moncong anjing kami. Seakan meneriakkan, "Kalian! Ada kalian! Hore! Hore! Akhirnya..!". Gonggongannya terdengar seperti ringisan harapan di telingaku. Seperti membayangkan seorang gembel berkain gombal yang mendadak bertemu lalu memeluk saudaranya yang kaya raya setelah sekian lama berpisah.
Seketika itu pula menyusul dari belakang, segerombol besar bagian dari kami beserta anjing-anjingnya. Segerombol anjing ras, katanya. Kami, sepasukan yang katanya adalah pecinta anjing, untuk sementara terhening demi melihat anjing kecil itu, turut gembira. Kami senang, tertawa. Namun hanya sesaat.
Bagian dari kami menghindar, "Hiiy, anjing jelek!", "Anjing buduk!", "Awas, minggir!!", seru kami. Aku pun meminta mereka untuk berlalu, "jalan duluan", kataku. Lalu mereka pergi, dengan sekitar lima orang sisanya tetap menemaniku.

Anjing buduk. Bau. Kuangkat badannya, seketika kurasakan di telapak tanganku bakteri dari sekujur badannya yang panas, penuh kutu, jamur, luka gores, memar, nanah, hingga lubang seperti sundutan rokok dari kepala hingga ekor. Kedua kaki belakangnya gemetar, tidak terlalu sanggup untuk menopang beban tubuhnya. Sesaat aku terpaku dan merinding.
Mendadak kami yang tersisa disitu berunding cepat tentang apa yang harus kami lakukan. Kami tinggalkan kah? Kami bawa kah? Kami mandikan? Pinjam mobil? Pinjam kandang? Bawa ke dokter? bawa ke shelter? Beri makan? Bagaimana kalau kutu-kutunya atau bakterinya melompat ke anjing-anjing mewah kita? Lalu setelah itu apa? Tinggalkan? Bagaimana kalau setelah itu dia tetap akan disiksa? Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? Lalu? Lalu?
Sementara itu, sembari tetap menggaruk-garuk tubuhnya sesekali, si kecil kampung tetap melompat-lompat riang, menggongong, berusaha untuk bergabung dengan anjing-anjing kami, anjing sehat, anjing bagus. Anjing mewah. Dalam dilematika tinggi, reflekku terus berusaha menghindar agar ia tidak bisa bersentuhan dengan anjingku. Otakku berputar cepat namun buntu. Bahkan, tidak bisa memberi alasan yang tepat kenapa aku melarang anjingku bersentuhan dengannya.
Tiba akhirnya si kecil tampak ingin buang air, dengan langkah pendeknya ia pun berlari menuju semak-semak di ujung sana sambil sesekali menoleh ke belakang, seakan berkata, "Tunggu aku! Tunggu aku ya…!".
Saatnya bagi kami untuk lari, menghilang. Ya, kami memutuskan untuk 'lepas'. Kami adalah pecinta anjing. Anjing-anjing kami adalah anjing bagus. Sehat. Terawat. Betapa kami adalah pecinta anjing, sehingga kami rela melepaskan diri dari belenggu masalah yang kami anggap 'bukan masalah kami'.

Kami pulang. Di kepalaku terbayang si kecil saat kembali dari semak-semak. Riangnya hilang seketika mendapati kami yang telah meninggalkannya. Lalu kembali kepada kesendiriannya, kesehariannya.
Tidak, ia tidak sendiri. Di sekitarnya ada manusia-manusia yang mungkin akan kembali mengusirnya, memukulinya, menyundutnya dengan rokok-rokok mereka. ketika kami menemuinya malam itu, ia berada di lokasi dekat rumah makan enak penyedia berbagai macam daging hewani. Seandainya ia masih bisa hidup hingga beberapa waktu mendatang, ia akan siap menjadi hidangan bagi manusia, menyusul mungkin orangtua dan saudara-saudaranya.
"Ia tidak sendiri", pikirku. Aku tenang dalam kebisuan.
T.A. Putra,
Dog's Night Out. Bandung, 29 April 2011.
Dog's Day Out Indonesia.
Images courtesy of Dog’s Night Out, by Dog’s Day Out Indonesia, 2011.
No comments:
Post a Comment