back to main page

Farewell, So Long, Mickey Mouse Dog

Anjing betina itu menghampiri kami, untuk kesekian kalinya. Tempat tinggalnya yaitu sebuah town-house tepat di depan tempat kami biasa berkumpul. Dimanapun tempat yang bisa dijejakinya di kompleks perumahan kecil dan mewah itu, disitulah ia hidup, setia menjaga gerbang town-house dari tiap sosok asing yang bertamu, bersama seekor kawan -anggaplah saudarinya- yang seumur.

Sikap waspadanya sangat tinggi sebagaimana anjing kampung pada umumnya. Warna bulu dan corak wajahnya mirip dengan wajah classic Mickey Mouse. Itulah julukan kami untuknya, sampai kami tahu namanya Choco. Nama yang cukup standar dan lucu, pas untuk seekor kampung-dog . Apalagi nama saudarinya, Pengki, anjing betina dengan -semacam- gondok di lehernya yang menggelambir dan bentol di sekujur gondoknya. Kami selalu mencoba teguh dengan keyakinan kami bahwa semoga gondoknya tersebut adalah luka kering permanen, bukan penyakit macam tumor atau sejenisnya. Masalah beres.

Butuh waktu sekurang-kurangnya tiga minggu untuk bisa meyakinkan Choco bahwa kami adalah ‘mahluk baik‘. Hingga -setidaknya- sewaktu anjing jantanku bisa bermain dengannya, barulah Choco berani membalikkan perutnya sebagai tanda kami bisa mengelusnya. Hanya Choco, tidak Pengki –kami anggap saja dia pemalu, masalah beres.

Choco, si anjing Mickey Mouse, bersama saudarinya, Pengki –yang lebih pantas dipanggil ‘choco’ karena warna coklatnya lebih dominan, hobinya mengais tempat sampah sekitar, termasuk juga di tempat kami. Tentunya, sekali-sekali kami beri makanan sisa, makanan baru, ataupun sengaja kami sisihkan dari makanan anjing-anjing kami. Melihatnya bermain dengan anjingku, layaknya melihat seorang gadis desa dengan putra gubernur dalam suatu adegan suasana film perdagangan-penjajahan Belanda.

Choco menjadi tamu kami yang paling setia, sekaligus teman baik kami. Langkahnya ringan, ayunannya tinggi, tampak pintar, tidak perlu waktu lama untuk memahami perintah-perintah dasar –yang konyolnya, dalam beberapa hal melebihi akurasi kepintaran anjingku. Kadang berjalan merayap, unik memang. Gelagatnya menunjukkan bahwa dia lebih minta dikasihi ketimbang diberi makan. Mungkin itu satu-satunya hal yang tidak bisa didapatnya di tempat sampah. Setiap hari datang di waktu kami baru berkumpul, dan hampir selalu datang lagi -terutama- di saat kami mau pulang, menemani.

Terbesit di pikiranku dan beberapa dari kami ingin mengambilnya suatu saat nanti, tapi terbentur dengan pertanyaan akan bagaimana perasaan saudarinya nanti, Pengki. Setidaknya, untuk sekarang ini, Choco adalah bagian dari kami.

Sampai hari Selasa pagi buta kemarin, keadaan berubah total. Terjawab sudah kenapa sejak tiga hari kemarin Choco tidak memunculkan batang moncongnya. Hari Jumat sebelumnya, muncul sebentar menegur anjingku, lalu pulang. Sabtu dan Minggu, tidak muncul sama sekali. Muncul kembali Senin tengah malam hanya sebentar, menghampiri anjingku dengan wajah sedih, lalu pergi menuju semak tetangga, dan tidak muncul lagi.

Kami heran, sampai beberapa saat setelahnya, didapati Choco melamun di depan town-house seperti biasa. Namun kali ini tidak ada gairah untuk menyapa kami atau anjingku sekalipun, demi Ares, itu respon yang sangat tidak mungkin dari seekor Choco.

Kami dekati, ekornya mengayun lemas, sembari membalikkan tubuhnya sendiri tanda bahwa sebenarnya dia ingin bermain, tapi kakinya tidak kuat menopang tubuhnya yang padahal kurus. Dari informasi penjaga town-house -yang sebenarnya adalah- pemilik Choco, diyakini bahwa Choco keracunan sisa racun tikus. Orang yang membuangnya mungkin tidak bermaksud untuk meracun Choco, tapi sembarang membuang ke tempat sampah tanpa dilapisi dengan baik. Yah, kami coba membuang segala pikiran negatif. Apakah itu ‘te-racun’ atau ‘di-racun’, intinya sama, Choco keracunan. Titik.

Siapapun pemilik racun tikus itu, semoga Ibu Bumi memberkatinya. Mereka tidak bersalah, hanya, kurang cerdas.

Kalau mengingat kronologi ketidakmunculan Choco, artinya itu adalah hari ketiga racun telah dikonsumsi. Jika benar racun tikus, hari keempat adalah sisa hidup terakhir bagi para pengkonsumsi racun tikus, demikian kira-kira menurut iklan perusahaan racun yang bersangkutan. Tragisnya, ternyata Pengki sudah mendahuluinya sejak kemarin, dan kami tidak tahu-menahu sama sekali.

Setelah aku amankan anjingku ke rumah, sisanya kami bertiga, dibikin pusing. Kedai sinting pinggir jalan mana yang masih menjual air kelapa jam segitu? Jalan ter-putus-asa satu-satunya saat itu adalah menjejali mulutnya dengan Norit dan minyak kelapa sawit yang bisa didapat di warung terdekat, sebagai pengganti minyak goreng, untuk menetralisir racun. Setidaknya kami yakini demikian. Choco, si anjing rakus, saat itu bakso pun dimuntahkannya –kecuali air minum, dan racun itu sendiri.

Menjelang Subuh kami bubar dengan lelah tak tertahankan, sementara Choco terpaksa dibawa pulang oleh salah satu dari kami untuk diamankan. Oleh kawan kami, dijejalinya lagi asupan-asupan yang kemudian tetap dimuntahkannya.

Malamnya, saat kami semua kembali berkumpul di tempat kami, depan town-house, ada kabar dari rumah kawan kami, Choco berdarah di muntah dan duburnya. Aku dan seorang kawan yang lain lagi bergegas datang membawa air kelapa –walaupun, ayolah, kami sendiri tidak yakin air kelapa itu bisa melakukan mukjizat apa. Seperti yang kami takutkan sejak awal dan selalu tidak kami percayai, kami terlambat. Badannya masih sedikit hangat, mungkin baru terjadi satu atau dua jam lalu. Sewaktu kuangkat, sisa air mengucur deras dari mulutnya.

Aku seka mulut dan duburnya pelan-pelan, sedikit gemetar, balut dengan kain potongan sprei, lalu kami antar kembali Choco ke tempat tinggalnya. Kami kubur dengan layak di pojokan kebun town-house dimana ia tinggal, tumbuh dan bermain bersama Pengki dahulu. Kami hanya bisa mengelusnya untuk terakhir kali, mengajaknya berbicara, membisikinya dengan kata-kata manis, menenangkannya –yang sebenarnya kata-kata itu lebih cocok untuk menenangkan hati kami sendiri, sebelum akhirnya tubuhnya tertimbun tanah galian. Lalu mengenang jejak-jejak galian nakal Choko dan Pengki di satu halaman rumah di dekat situ. Pengalaman pertama hidupnya naik motor dan berada dalam kandang besi menjadi pengalaman terakhirnya.

Rasanya masih belum percaya, seperti baru kemarin Choko merayap, mengendap-endap menghampiri kami, bermain. Kadang datang menggigil kelaparan, di waktu lain kadang malah menolak makanan yang kami sodorkan, lalu minta dibelai, hanya dibelai, energi manusia yang mungkin tidak pernah didapatinya di area town-house sepanjang sekitar dua tahun hidupnya, sementara makanan bisa saja dengan mudah dikaisnya dari tiap-tiap tempat sampah di sekitarnya.

Choko si kampung-dog, beberapa kenangan jejak kakinya masih tertinggal di sweater dan celana panjang seorang dari kami dan juga di kausku yang belum sempat dicuci dari terakhir Choco masih bergerak riang. Kenangan-demi kenangan bersamanya begitu singkat dan lucu di benak kami.

Jika bisa dikatakan, mungkin Choko masih lebih beruntung sempat menemukan energi kasih sayang sewaktu bertemu kami di saat-saat terakhir hidupnya. Sementara Pengki –yang belakangan kami ketahui ternyata bernama Choki, hampir pasti telah mengalami diskriminasi visual dan kasih sayang oleh karena penyakit gondoknya.

Sekedar analisis, rasa lapar Pengki saat itu mungkin mengalahkan naluri curiganya sendiri akan suatu benda asing. Sementara Choko, si anjing berwajah lucu, karena cenderung lebih banyak orang yang memberinya makan –dan suka merebut makanan Pengki, maka dia tidak selapar itu untuk langsung melahap benda asing tersebut. Karena itulah mungkin Pengki pergi lebih dulu. Secara psikologis, kami yakini, perasaan sedih ditinggal Pengki membuat daya tahan tubuh Choko pun semakin jatuh.

Seperti umumnya anjing, berusaha menyendiri pada saat merasa akan mati. Choko tinggal di daerah padat perumahan, tidak ada pojokan pohon yang sekiranya damai baginya untuk ditiduri sampai saat-saat terakhir.

Choko, si anjing Mickey Mouse, tatapan murung terakhirnya ke arah anjingku seolah mengisyaratkan ucapan selamat tinggal sebelum berjalan lunglai menjauh dan akhirnya kami tangkap lagi. Penyesalan kami sangat besar membiarkan dirinya pergi di pojokan kandang besi dingin, tanpa ada satupun dari kami yang menemani –dan bukan di tempat yang dipilihnya sendiri.

Kini, tidak ada lagi yang akan menemani kami di tempat biasa kami berkumpul, saat datang maupun pulang, selain anjing-anjing kami sendiri. Semoga Choco tetap mengingat kehangatan antara dirinya dengan kami selama masa sisa akhir hayatnya.

Selamat istirahat dengan tenang, dua kawan kecil. Terimakasih sudah menjadi teman baik kami selama dua bulan lebih ini.


T.A. Putra,
Warung Kopi Tenda. Bandung, Rabu 6 Desember 2011.
Dog's Day Out Indonesia.

Foto: Anindhita Lakshmi Soeriodipoero, Gumelar Ardhianto, 2011.

No comments:

Post a Comment