Beberapa orang di generasiku yang aku kenal telah pergi.
Diantaranya adalah kerabat dekatku maupun kerabat terdekat dari kerabatku.
Beberapa tidak terlalu mengenalku, sebagaimana juga aku.
Tapi aku tahu mereka, sebagaimana mungkin juga mereka terhadapku.
Diantaranya adalah kerabat dekatku maupun kerabat terdekat dari kerabatku.
Beberapa tidak terlalu mengenalku, sebagaimana juga aku.
Tapi aku tahu mereka, sebagaimana mungkin juga mereka terhadapku.
Sani,
seorang remaja tengil, anak kemarin sore, jasadnya ditemukan mengambang dan tersangkut di sebuah kali di Jakarta, setelah beberapa hari kabur dari rumah. Ada jejak jeratan di lehernya. Sebagian orang beranggapan pasti bahwa Sani telah dibunuh.
Usianya waktu itu baru sekitar 13-16 tahun, sepantaran denganku. Sebagai bocah populer, tidak heran makamnya dipenuhi para pelayat. Seorang calon don juan, calon rock star, dimana pacar dan para mantan pacarnya, teman-temannya, bersama keluarganya memenuhi areal di detik-detik Sani dikuburkan. Begitu juga dengan, mungkin, pembunuhnya, serta para bandar narkoba.
Ya, Sani adalah pemakai aktif, perokok juga peminum. Di hari jasadnya ditemukan yang dengan cepat membiru banyak ditemukan bekas suntikan yang khas. Sani pergi membawa banyak kenangan bagi banyak kenalannya. Wajah dan penampilannya cukup mengingatkan orang akan sosok almarhum Galang Rambu Anarki, musisi ramaja populer yang juga pergi dengan kasus serupa di saat justru karirnya sedang melonjak naik.
Hingga beberapa tahun setelahnya, di era yang semakin digital, teman-temannya membuat profil khusus untuknya dengan tajuk "Teman Sani" pada sebuah situs jejaring internet populer Friendster.
Untuk apa? Ada yang mengatakan bahwa orang telah mati jika telah terlupakan.
Aku, tidak menghadiri pemakaman tersebut.
Adit,
seorang pemuda gemulai. Aku menganggapnya sebagai salah satu teman terbaikku. Namun begitu, ada satu momen yang pernah memicu pertengkaran cukup sengit diantara kami, prihal sepele, barangku yang tidak juga dikembalikan setelah lama dipinjamnya. Aku tidak pernah mengira bahwa pertengkaran mulut di telepon kala itu akan menjadi obrolan terakhir antara aku dengannya. Mobil milik ayahnya yang dikendarainya mengalami kecelakaan fatal di Bandung, setelah beberapa hari kabur dari rumah.
Adalah seorang don juan yang agak kewanita-wanitaan berusia sekitar 19-20 tahun, sepantaran denganku. Seorang calon rock star, kepopuleran sosoknya membuat makamnya dipenuhi oleh banyak orang, kenalannya. Para mantan kekasihnya, teman-temannya, disamping keluarga besarnya hadir mengiringi hingga di detik-detik jasadnya dimakamkan. Begitu juga dengan, mungkin, para bandar narkoba.
Ya, Adit adalah pemakai dan perokok aktif. Di hari jasadnya ditemukan yang dengan cepat membiru banyak ditemukan bekas suntikan yang khas. Adit pergi membawa banyak kenangan bagi banyak kenalannya. Sebagian orang mengikhlaskan kepergiannya. Sebagian lagi meratapinya tanpa henti. Sebagian sisanya tersenyum rindu, atau bahkan mungkin sinis. Semua mengenangnya.Kenapa? Ada yang mengatakan bahwa rock star akan hidup hingga usia 27 tahun. Adit belum juga mencapai 21 tahun kala itu. Tapi sebagian orang meyakini potensi dirinya yang besar. Ya, bagaimanapun Adit adalah orang baik yang pernah hidup bersama generasinya. Seseorang yang pantas untuk dikenang.
Aku, menghadiri pemakaman tersebut dari jauh. Hatiku tidak kuat menahan rasa sedih, marah, sekaligus perasaan rindu yang mendalam.
Andry,
seorang musisi, kritikus, seniman muda kharismatik yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Bagiku pribadi yang tidak terlalu mengenalnya secara mendalam, Andry menjadi salah satu pemicu terbesarku untuk bisa menjadi 'seseorang', untuk bisa menjadi seniman. Hidupnya berakhir di sebuah rumah sakit di Bandung di usia sekitar 32-34 tahun, beberapa tahun lebih tua dariku.
Sebagian mengatakan bahwa salah satu pemicu terbesar penyakitnya adalah gaya hidup yang tidak cukup sehat yang pernah dilaluinya, seperti merokok aktif, dan mungkin juga alkohol. Berkendara motor pada malam hari. Atau situasi dan kondisi masa lalunya yang memungkinkan dirinya untuk sering mengkonsumsi makanan-minuman instan pabrikan. Dan lain-lain, dan sebagainya, entah apa lagi.
Andry adalah orang baik, seorang rock star sejati yang hidup di generasinya. Kharismanya sungguh hidup dan banyak menjadi pemicu positif bagi lingkungan yang pernah dilewatinya. Sebuah gambaran yang mendekati nyata akan kata-kata 'orang baik mati muda'. Kepopulerannya membuat makamnya dipenuhi oleh banyak sekali pelayat. Istri, para kolega, disamping keluarga besarnya hadir mengiringi hingga di detik-detik jasadnya dikuburkan.
Namanya tetap harum. Akhir perbincangan singkatku dengannya pada layanan internet Yahoo! Messenger, Andry bertanya, kapankah dirinya akan di-'kick' olehku? Aku sangat tersanjung. "Kick!" adalah tema besar karya seniku sebagai seorang seniman muda, dan artinya, kesenimananku telah diakui olehnya, salah seorang seniman muda dan besar di generasiku. Aku terangkan, ya, aku memang sedang menyusun suatu tema besar "Kick!" dimana dirinya akan aku jadikan juga sebagai objek karya seniku.Sepeninggal dirinya, dianugerahkan suatu pameran khusus tiga kota di Bandung, Jakarta dan Yogyakarta sebagai kenangan dan penghormatan atas karya-karya yang pernah dibuatnya, disamping karya-karya pendamping dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Ya, semua orang merindukannya.
Aku, menghadiri pemakamannya kala itu. Ikut merindukannya. Meng-'kick'-nya di kemudian hari, lalu menyertakan juga karya "Kick!"-ku sebagai salah satu pendamping karya-karyanya.
Untuk apa semua itu? Ada yang mengatakan bahwa seorang seniman telah mati jika ia berhenti berkarya. Andry tidak berhenti berkarya, setidaknya itulah yang diyakini oleh orang-orang yang mengenalnya. Begitu juga dengan keyakinanku.
Wisnu.
Tidak. Aku tidak pernah mengenalnya secara utuh, selain yang kuketahui bahwa Wisnu adalah seorang seniman alumni kampusku. Aku hanya pernah 3-4 kali berada dalam suatu forum kecil yang cukup resmi dengannya. Begitu juga dengan karya lukisannya yang pernah dititipkan oleh rekan sejawatnya kepadaku hingga detik ini.
Namanya cukup membahana di lingkungan yang pernah dilewatinya. Sosoknya terkenal keras dan arogan. Hidupnya berakhir di rumah sakit, berhubungan dengan penyakit dalam. Usianya sekitar 32-34 tahun, beberapa tahun lebih tua dariku. Sejauh yang pernah aku dengar, Wisnu menjalani masa hidupnya dengan tidak cukup sehat. Perokok aktif, juga seorang alkoholik dan entah apa lagi. Atau situasi dan kondisi masa lalunya yang memungkinkan dirinya untuk sering mengkonsumsi makanan-minuman instan pabrikan. Dan lain-lain, dan sebagainya.
Setahuku berita akan kepergiannya diterima cukup terlambat oleh sebagian besar koleganya. Sebagian besar orang merindukannya. Mungkin aku termasuk golongan orang yang bingung apakah aku harus ikut bersedih, meratapi orang yang hanya pernah kukenal sekilas, atau tidak. Entah karena aku tidak ingin bersikap terlalu naif, atau mungkin juga aku terlalu keras dengan tidak bisa sedikitnya berbagi perasaan yang mendasar sebagai sesama mahluk sosial.Aku, tidak menghadiri pemakamannya, alih-alih baru mengetahui kabar tersebut beberapa hari setelahnya. Yang aku tahu, ada yang mengatakan bahwa kematian adalah awal dari sebuah kehidupan. Dari segi manapun, aku tidak benar-benar paham ataupun merasa ingin mencari kebenaran atas makna dari kata-kata tersebut.
Annas,
entah, pertemuanku yang hanya dua kali dalam dua buah acara pesta kecil, telah cukup membuatku merasa mengenalnya. Sosoknya yang populer, rendah hati, pembawaannya yang menyenangkan, topik-topik pembicaraannya yang selalu menarik, kuyakini kharisma personalnya bisa diterima oleh bahkan semua orang.
Kami cukup banyak berbincang di riuhnya suara pesta. Tercetus niatnya untuk menghadiri suatu pameran seniku bersama rekan-rekan seniman lainnya yang akan berlangsung tiga minggu mendatang. Ya, Annas selalu menawarkan persahabatan kepada orang yang bahkan baru dikenalnya.
Tepat dua minggu setelah pertemuan terakhir kami, adalah waktunya Annas untuk pergi, di usia 26-27 tahun, seusia denganku. Kudengar semasa hidupnya Annas menjalani hidup dengan tidak cukup sehat. Perokok aktif, alkoholik dan entah mungkin apalagi. Tapi tidak, kepergiannya bukan karena suatu penyakit ataupun karena pengaruh zat-zat adiktif. Annas pergi karena kecelakaan di suatu pagi saat berkendara motor sendirian menuju rumahnya. Suatu kecelakaan yang sebenarnya 'bukan' kecelakaan berat, namun sayangnya fatal.
Aku sama sekali tidak bersikap egois dengan merasa Annas masih memiliki hutang untuk datang ke pameranku. Hanya saja lagi-lagi, aku mengakui, mungkin aku termasuk golongan orang yang bingung apakah aku harus ikut bersedih, meratapi orang yang hanya pernah kukenal sekilas, atau tidak. Entah karena aku tidak ingin bersikap terlalu naif, atau mungkin juga aku terlalu keras dengan tidak bisa sedikitnya berbagi perasaan yang mendasar sebagai sesama mahluk sosial. Yang pasti, aku mengakui bahwa aku sangat sedih, dan merindukannya.Begitu juga dengan semua orang yang mengenalnya, tentunya. Lagi, sebuah contoh yang mendekati nyata akan kata-kata 'orang baik mati muda'. Tidak heran yang aku dengar, makamnya dipenuhi oleh banyak sekali pelayat, mengiringi hingga di detik-detik jasadnya tertimbun tanah. Aku, tidak menghadiri pemakamannya. Suatu penyesalan yang sangat besar buatku.
Kenapa? Ada yang mengatakan bahwa pergi di saat yang indah adalah cara yang baik sebelum menunggu datangnya keburukan. Ucapan belasungkawa dan teriakan rasa rindu terus menghiasi halaman profilnya pada situs jejaring internet populer Facebook.
Anggi,
seorang seniman, desainer, penulis, entertainer, seorang perempuan muda berpenampilan menarik, populer, yang sangat menyenangkan bagi hampir kebanyakan orang. Pembawaannya yang terlihat kekanakan, naif, menjadi tameng pelindung akan jiwanya yang sebenarnya tangguh. Selalu ingin bisa membuat semua orang terdekatnya untuk tertawa, sekaligus juga berambisi untuk membuat semua orang yang dibencinya menjadi sengsara.
Lepas dari itu semua, figur Anggi adalah seorang keluarga bagi kolega terdekatnya. Seorang adik, seorang kakak, seorang sahabat sekaligus sosok yang patut ditiru oleh manusia-manusia yang ingin bisa merasakan bahwa: "percayalah-dunia-ini-begitu-indah".
Hidupnya berakhir di sebuah rumah sakit di Bandung pada usia 23 tahun, terpaut 2-3 tahun di bawah usiaku. Yang aku dengar, sejak kecil Anggi menjalani hidupnya dengan baik. Namun di masa ia bekerja, kesibukannya yang padat membawa dirinya pada kondisi kesehatan yang tidak cukup baik, tidak makan dengan teratur, dan mungkin juga angin malam serta entah apalagi. Mungkin tubuhnya terkejut, tidak terbiasa dengan perubahan siklus hidup yang cukup drastis.
Anggi adalah orang baik, lagi-lagi menjadi contoh yang mendekati nyata akan kata-kata 'orang baik mati muda'. Kepopuleran dirinya membuat makamnya dipenuhi oleh banyak pelayat mengiringi hingga detik-detik jasadnya tertidur di bawah tanah. Aku, menghadiri pemakamannya kala itu. Turut merindukannya.Andry, demikian juga Anggi,
sepeninggal dirinya, dianugerahkan sebuah pameran khusus dikampusnya sendiri di Bandung sebagai kenangan dan kerinduan atas karya-karya seni yang pernah dibuatnya disamping karya-karya pendamping dari orang-orang yang pernah mengenalnya.
Annas, Andry, demikian juga Anggi,
sepeninggal dirinya, ucapan belasungkawa dan teriakan rasa rindu terus menghiasi halaman profilnya pada situs jejaring internet populer Facebook, Blogspot, Tumblr, Twitter, dan ayolah, entah apalagi.
Ya, semua orang merindukannya.
Untuk apa semua itu? Ada yang mengatakan bahwa Tuhan begitu menyayangi mahlukNya sehingga mengambilnya kembali sebelum mahlukNya merasakan penderitaan yang bisa jadi akan lebih besar lagi. Kupikir tidak ada salahnya sesekali berpikir dengan cara Anggi, yang begitu naifnya, sehingga bisa diyakini bahwa kata-kata tersebut benarlah adanya. Nikmati hidup ini.
Aku,
seorang seniman muda yang ambisius, visioner. Seorang penulis. Cukup banyak dikenal oleh orang-orang di generasiku. Seorang pencatat yang berdedikasi. Karya-karyaku sekiranya menjadi salah satu penanda sejarah bagi kalangan seniman muda di masaku, dan menjadi bentuk kontribusi yang nyata bahkan bagi masa-masa setelah aku.
Aku, sebagaimana jiwa-jiwa muda yang hidup di masaku mauapun masa sebelumku atau setelahku, hidup sebagai personal yang wajar, mengalami kegamangan spiritual di satu waktu dan mengalami kegilaan-kegilaan duniawi di satu waktu lainnya.
Kondisi tubuh yang sekiranya 'masih-dalam-batas-wajar', atau setidaknya, 'diwajarkan'. Berangin-anginan di malam hari. Menerima asupan-asupan instan pabrikan sehari-hari. Mantan pemakai. Perokok aktif. Siklus hidup yang tidak bisa dibilang normal, tidur di pagi hingga siang atau sore hari, untuk kemudian beraktifitas di malam hari dan seterusnya. Bukan pengolah raga yang baik. Tidak memiliki pendalaman spiritual yang baik terhadap suatu agama-kepercayaan yang aku miliki.
Memiliki banyak, sangat banyak kolega dimana jumlah antara rekan yang akan selalu memelukku berbanding sama banyaknya dengan jumlah orang yang siap untuk menikamku dengan pisau dapur mereka dimanapun dan kapanpun aku lengah. Sekiranya aku hidup di era perjuangan tempo dulu, kupikir mungkin aku sudah mati di tengah jalan ditikam oleh lawan-lawan prinsipku --lalu di waktu yang lain, setelahnya, rekan-rekan pendukungku akan segera membalaskan kematianku.
Dalam suatu perenungan, ada kalanya tersirat pikiran yang mendalam seputar kehidupan yang kujalani. Apakah aku sehat? Apakah aku bisa berumur panjang sebagaimana ras Asia normal pada umumnya? Maksudku, bisakah umurku mencapai setidaknya 50 tahun? Atau mentok di umur 75 tahun? Apa yang akan terjadi denganku seiring dengan berjalannya waktu?
Izinkan aku bercerita.Lalu. Berbondong-bondong orang datang memenuhi areal pemakamanku. Keluargaku, rekan-rekan terdekatku, musuh-musuhku, mantan-mantan kekasihku, juga pendamping hidupku --tidak, aku tidak ingin pendampingku merindukanku di sisa hidupnya, ia harus pergi sebelum aku. Demikian juga anjing Kintamani kesayanganku, sudah harus mendahuluiku.
Ya, mereka yang masih hidup mengiringi hingga pada pandangan tanah terakhir yang menimbun tubuhku.
Mereka, kini sedang menertawakan kegilaan-kegilaanku di masa aku hidup, menangisi sekaligus mengenangku dengan senyum lepas mereka. Meyakini bahwa aku "sudah-bisa-hidup-dengan-tenang-sekarang". Orang yang pernah aku benturkan wajahnya ke lantai lalu kuinjak-injak, kupikir saat itu ia sedang menyesali kenapa aku tidak mati di tangannya sendiri. Begitu juga dengan orang yang pernah memukuli tubuhku hingga aku terberai dulu, kulihat ia sedang menyesali kenangan buruknya denganku.
Hingga jauh saat setelahnya pun aku masih mendapati pesan-pesan baru atas kerinduan mereka di halaman depan profilku, di internet, email, blog, telepon genggamku dipenuhi sapaan rindu sebelum akhirnya benar-benar mati total.
Syukurlah, aku pergi di masa yang tepat, umur yang tepat, serta di saat yang bukan merupakan masa kejatuhanku.
Oh ya, Andry, demikian juga aku, sebuah pameran seni telah dibuat untuk mengenangku. Para seniman di generasiku membuat karya-karyanya untuk dipajang berdampingan dengan karya-karyaku. Mereka merindukanku. Merindukan saat-saat mereka pernah berpameran bersamaku, saat-saat berdiskusi, berargumen, dan lain sebagainya. Sekiranya, jumlah karya-karya masterpiece-ku saat itu sudah cukup banyak, dan telah menjadi salah satu 'aset' yang dicari. Sudah cukup untuk membuat suatu bentuk investasi yang berarti bagi para pemilik karyaku untuk menikmati hasi riil-nya.
Kenapa? Karena aku tidak akan benar-benar mati karena telah dilupakan. Ya, aku tidak berhenti berkarya di kehidupanku yang lain, setidaknya, itulah yang harus kuyakini. Anggi, demikian juga aku, secara naif meyakini bahwa kepergian ini merupakan perwujudan rasa sayang Tuhan kepadaku. Tujuan hidupku telah tecapai.
Aku, sang Josephus. Sang Collins. Ya, aku besar. Setidaknya, bagi generasiku sendiri maupun bagi generasi setelah aku. Sebagaimana mereka, orang-orang yang pernah kukenal yang telah lebih dulu pergi sebelum aku.
Dan aku. Sudah barang tentu dengan khidmat akan menghadiri pemakaman diriku sendiri kala itu terjadi.
Bandung, 2006 - 2012,
T.A. Putra
Imej: Alm. Adit Kusnandar, Andry Mochammad, Albertus Wisnumurti, Annas, Anggi Annisanazhif Soendadjaja, Sindhu & Tommy Aditama Putra.
No comments:
Post a Comment