PADA SAAT ANDA MELIHAT BEBERAPA ORANG MEMBAWA ANJING KINTAMANI ;
Berkumpul bersama dalam suatu gathering, dog’s-day, dog-show, atau apapun itu event-nya --mungkin di benak anda akan timbul beberapa pertanyaan, seperti misalnya:
“Kok warna Kintamani-nya krem?”,
“Kok, kalo Kintamani yang itu warnanya putih?”,
“Kok yang punya tetangga sebelah telinganya lebih besar dari yang ini ya?”,
“Warna belakang telinganya kok beda ya?”,
“..yang punya dia itu bulunya kok lebih tebal...?”,
“..kepalanya...?”, “..ekornya...?”,
..bla, bla, bla, bla, dst....

APAKAH ANDA SEORANG HOBIIS ANJING ?
Atau, minimal, anda mengenal orang-orang di lingkungan anda yang memiliki anjing?
Kalau begitu, anda pasti mengenal Siberian Husky, salah satu anjing dengan proporsi yang termirip dengan serigala -bahkan- di grupnya sendiri.
Saya mengenal dua orang sesama hobiis anjing yang memiliki Siberian Husky sama sekali berbeda antara satu dengan yang lainnya;
Yang seekor --bertubuh cenderung kecil, badan langsing, kepala tirus, dengan khas mata rubah.
Sementara, yang seekor lagi --bermata khas serigala dengan tubuh oversize, besar dan tinggi di luar standarisasi Siberian Husky pada umumnya.
Ada Siberian Husky yang berwarna putih-hitam, ada lagi yang putih-abu. Tidak sedikit juga yang memiliki Siberian Husky berwarna kecoklatan ataupun all-white.
Percaya atau tidak, anda tidak akan terlalu memusingkan perbedaan dari Husky-Husky tersebut --karena anda memang ‘mengenal’ Siberian Husky.
Bagaimana dengan Golden Retriever? Tidak mungkin anda tidak mengenalnya.
Ada orang yang memiliki Golden Retriever dengan warna golden maupun foxred. Ada yang moncongnya panjang ataupun cenderung pendek. Bulunya ada yang cenderung lebih panjang antara satu dengan yang lainnya. Besar kakinya, tinggi badannya, dll.
Bagaimana dengan ras-ras lainnya? Rottweiler kah? Pomeranian? Great Dane? Shih Tzu? Pug? German Shepherd? Dan anjing-anjing ‘import’ lainnya?
Sadar atau tidak sadar, anda akan menemukan perbedaan anjing-anjing tersebut antara yang satu dengan yang lainnya, walaupun hanya sedikit saja; apakah itu dari proporsi tubuhnya, temperamennya, kelakuannya dan mungkin juga kondisi fisiknya --terlepas dari basic tiap ras tersebut.
Dan lagi, percaya atau tidak, anda tidak akan terlalu memusingkan perbedaan dari tiap anjing tersebut. Bahkan, tidak jarang ada orang yang menyamakan Alaskan Malamute dengan Siberian Husky karena secara fisik dua ras tersebut memang mirip.
Atau, asal ada anjing kecil putih dan berbulu tebal --semuanya dibilang Poodle.
Intinya adalah, bahwa anda dan juga publik umum sudah ‘kenal’ dengan ras-ras anjing tersebut sebagai anjing Internasional. Begitu juga dengan saya.
BAGAIMANA DENGAN KINTAMANI ?
Kintamani, perlu sedikit waktu lebih untuk bisa diakui secara tertulis oleh dunia. Walaupun saat ini standarisasi Kintamani yang diakui memang baru berwarna putih saja, namun bukan tidak mungkin kelak yang berwarna hitam pun akan diakui juga nantinya.
Anjing ini anjing lokal.
Kintamani semasa kecil, seringkali dikira Golden Retriever.
Agak gedean sedikit, sering disangka all-white Siberian Husky.
Kintamani dewasa yang agak krem atau kecoklatan, dituduh crossbreed dengan -lagi-lagi- Golden Retriever.
Yang gen bulunya tebal malah ditebak Samoyed.
Kintamani hitam atau ‘terlanjur’ belang, boro-boro dianggap Kintamani --orang awam pun bisa kabur karena tampak lebih seram...... betapa malangnya.
Kasus lain, karena tabiat dasar Kintamani yang kadang kelewat ‘waspada’, seringkali di arena dogshow mencoba menggigit juri yang ingin memeriksa giginya --lalu dianggap galak. Saking kampungannya, di kampungnya sendiri harga jual mereka hanya di kisaran harga 4 buah kaos yang bisa kita beli di factory-outlet pada umumnya. Bahkan, di beberapa tempat, pembiakannya pun dibiarkan merajalela hingga seringkali menghasilkan corak-warna bulu yang sulit dikenali lagi genetiknya. Sekali waktu harga Kintamani dijual setara dengan anjing ‘import’ lainnya, lalu peminat Kintamani lainnya -yang kurang referensi- protes, dianggapnya kemahalan.
Kalau-kalau ada segerombolan orang yang sedang membawa Kintamani-nya jalan-jalan, lalu lewat di depan anda;
Percaya atau tidak, anda akan segera membombardir dengan segala pertanyaan mengenai perbedaan kepada segerombolan Kintamani yang tidak berdosa tersebut, walaupun perbedaannya hanya sekedar flek hitam yang timbul pada bokong salah satunya --karena anda memang ‘tidak mengenal’ Kintamani.
Kalaupun anda ternyata mengenalinya, bisa jadi itu karena menjamurnya remake film Hachiko baru-baru ini yang notabene orisinil film tersebut sebenarnya sudah basi di kampungnya sendiri --lalu anda akan mengira bahwa segerombolan doglover malang tersebut adalah pecinta Akita Inu, tanpa mengetahui bahwa Akita dan Kintamani memang termasuk dari satu grup spitz dog.
Anjing Kintamani adalah anjing kampung, karena -tidak perlu dipungkiri- sudah begitu membudaya bahwa anggapan semua yang datangnya dari luar negeri lebih dianggap ‘kota’ dan ‘keren’.
Karena hasil lokal, dan kita juga orang lokal, jadilah kita bilang anjing Kintamani adalah anjing ‘kampung’. Sama dengan publik di Jepang sana yang menganggap Shiba Inu milik anda sebagai anjing kampung mereka. Bedanya, mereka bangga dengan hasil lokal mereka sendiri.
Saya, hobiis anjing -sebagai salah satu Kintamania, mengakui, bahwa Kintamani memang bukanlah yang terbaik. Terlepas dari parameter ‘terbaik’ bagi setiap orang juga pasti berbeda-beda tergantung selera, yang tidak hanya selalu ditentukan oleh harga jual, banyaknya piala atau semahal apa perawatan hidupnya;
lebih mendasar lagi, sejauh apa kita menghargai anjing Kintamani sebagai bagian dari ‘produk’ bangsa Indonesia --disitulah derajat Kintamani kelak sejajar dengan ras-ras anjing lainnya.
Salam Kintamania. Salam doglover. Salam Indonesia,
Tommy Aditama Putra. Seniman.
Bandung, April 2010
* * * * *
_____________________________
Referensi:
Catatan, dokumen pribadi. Obrolan, diskusi santai. Artikel, dokumen lepas. Dokumen Kintamania.
Imej & link situs / blog terkait:
Balinese Dog Kennel. Permata Nusantara. Rumah Terraria. Balinese Kintamani Dog.
Wikipedia, the free encyclopedia. PERKIN. anjingkita.com.
Catatan kecil,
"KINTAMANI; Anjingku, anjingmu". 2010.
"KINTAMANI; Anjing Ras, Anjing Kampung". 2009.
Tommy Aditama Putra I Multiply I Facebook
Sindhu the Kintamani
Atau, minimal, anda mengenal orang-orang di lingkungan anda yang memiliki anjing?
Kalau begitu, anda pasti mengenal Siberian Husky, salah satu anjing dengan proporsi yang termirip dengan serigala -bahkan- di grupnya sendiri.
Saya mengenal dua orang sesama hobiis anjing yang memiliki Siberian Husky sama sekali berbeda antara satu dengan yang lainnya;
Yang seekor --bertubuh cenderung kecil, badan langsing, kepala tirus, dengan khas mata rubah.
Sementara, yang seekor lagi --bermata khas serigala dengan tubuh oversize, besar dan tinggi di luar standarisasi Siberian Husky pada umumnya.
Ada Siberian Husky yang berwarna putih-hitam, ada lagi yang putih-abu. Tidak sedikit juga yang memiliki Siberian Husky berwarna kecoklatan ataupun all-white.
Percaya atau tidak, anda tidak akan terlalu memusingkan perbedaan dari Husky-Husky tersebut --karena anda memang ‘mengenal’ Siberian Husky.
Bagaimana dengan Golden Retriever? Tidak mungkin anda tidak mengenalnya.
Ada orang yang memiliki Golden Retriever dengan warna golden maupun foxred. Ada yang moncongnya panjang ataupun cenderung pendek. Bulunya ada yang cenderung lebih panjang antara satu dengan yang lainnya. Besar kakinya, tinggi badannya, dll.
Bagaimana dengan ras-ras lainnya? Rottweiler kah? Pomeranian? Great Dane? Shih Tzu? Pug? German Shepherd? Dan anjing-anjing ‘import’ lainnya?
Sadar atau tidak sadar, anda akan menemukan perbedaan anjing-anjing tersebut antara yang satu dengan yang lainnya, walaupun hanya sedikit saja; apakah itu dari proporsi tubuhnya, temperamennya, kelakuannya dan mungkin juga kondisi fisiknya --terlepas dari basic tiap ras tersebut.
Dan lagi, percaya atau tidak, anda tidak akan terlalu memusingkan perbedaan dari tiap anjing tersebut. Bahkan, tidak jarang ada orang yang menyamakan Alaskan Malamute dengan Siberian Husky karena secara fisik dua ras tersebut memang mirip.
Atau, asal ada anjing kecil putih dan berbulu tebal --semuanya dibilang Poodle.
Intinya adalah, bahwa anda dan juga publik umum sudah ‘kenal’ dengan ras-ras anjing tersebut sebagai anjing Internasional. Begitu juga dengan saya.
BAGAIMANA DENGAN KINTAMANI ?
Kintamani, perlu sedikit waktu lebih untuk bisa diakui secara tertulis oleh dunia. Walaupun saat ini standarisasi Kintamani yang diakui memang baru berwarna putih saja, namun bukan tidak mungkin kelak yang berwarna hitam pun akan diakui juga nantinya.
Anjing ini anjing lokal.
Kintamani semasa kecil, seringkali dikira Golden Retriever.
Agak gedean sedikit, sering disangka all-white Siberian Husky.
Kintamani dewasa yang agak krem atau kecoklatan, dituduh crossbreed dengan -lagi-lagi- Golden Retriever.
Yang gen bulunya tebal malah ditebak Samoyed.
Kintamani hitam atau ‘terlanjur’ belang, boro-boro dianggap Kintamani --orang awam pun bisa kabur karena tampak lebih seram...... betapa malangnya.
Kasus lain, karena tabiat dasar Kintamani yang kadang kelewat ‘waspada’, seringkali di arena dogshow mencoba menggigit juri yang ingin memeriksa giginya --lalu dianggap galak. Saking kampungannya, di kampungnya sendiri harga jual mereka hanya di kisaran harga 4 buah kaos yang bisa kita beli di factory-outlet pada umumnya. Bahkan, di beberapa tempat, pembiakannya pun dibiarkan merajalela hingga seringkali menghasilkan corak-warna bulu yang sulit dikenali lagi genetiknya. Sekali waktu harga Kintamani dijual setara dengan anjing ‘import’ lainnya, lalu peminat Kintamani lainnya -yang kurang referensi- protes, dianggapnya kemahalan.
Kalau-kalau ada segerombolan orang yang sedang membawa Kintamani-nya jalan-jalan, lalu lewat di depan anda;
Percaya atau tidak, anda akan segera membombardir dengan segala pertanyaan mengenai perbedaan kepada segerombolan Kintamani yang tidak berdosa tersebut, walaupun perbedaannya hanya sekedar flek hitam yang timbul pada bokong salah satunya --karena anda memang ‘tidak mengenal’ Kintamani.
Kalaupun anda ternyata mengenalinya, bisa jadi itu karena menjamurnya remake film Hachiko baru-baru ini yang notabene orisinil film tersebut sebenarnya sudah basi di kampungnya sendiri --lalu anda akan mengira bahwa segerombolan doglover malang tersebut adalah pecinta Akita Inu, tanpa mengetahui bahwa Akita dan Kintamani memang termasuk dari satu grup spitz dog.
Anjing Kintamani adalah anjing kampung, karena -tidak perlu dipungkiri- sudah begitu membudaya bahwa anggapan semua yang datangnya dari luar negeri lebih dianggap ‘kota’ dan ‘keren’.
Karena hasil lokal, dan kita juga orang lokal, jadilah kita bilang anjing Kintamani adalah anjing ‘kampung’. Sama dengan publik di Jepang sana yang menganggap Shiba Inu milik anda sebagai anjing kampung mereka. Bedanya, mereka bangga dengan hasil lokal mereka sendiri.
Saya, hobiis anjing -sebagai salah satu Kintamania, mengakui, bahwa Kintamani memang bukanlah yang terbaik. Terlepas dari parameter ‘terbaik’ bagi setiap orang juga pasti berbeda-beda tergantung selera, yang tidak hanya selalu ditentukan oleh harga jual, banyaknya piala atau semahal apa perawatan hidupnya;
lebih mendasar lagi, sejauh apa kita menghargai anjing Kintamani sebagai bagian dari ‘produk’ bangsa Indonesia --disitulah derajat Kintamani kelak sejajar dengan ras-ras anjing lainnya.
Kalau pepatah mengatakan,
“Kenalilah diri anda sebelum menilai orang lain”;
tanpa intensi sarkastik --saya mengatakan,
“Kenalilah Kintamani sebelum memuji anjing import tetangga anda”.
“Kenalilah diri anda sebelum menilai orang lain”;
tanpa intensi sarkastik --saya mengatakan,
“Kenalilah Kintamani sebelum memuji anjing import tetangga anda”.
Salam Kintamania. Salam doglover. Salam Indonesia,
Tommy Aditama Putra. Seniman.
Bandung, April 2010
* * * * *
_____________________________
Referensi:
Catatan, dokumen pribadi. Obrolan, diskusi santai. Artikel, dokumen lepas. Dokumen Kintamania.
Imej & link situs / blog terkait:
Balinese Dog Kennel. Permata Nusantara. Rumah Terraria. Balinese Kintamani Dog.
Wikipedia, the free encyclopedia. PERKIN. anjingkita.com.
Catatan kecil,
"KINTAMANI; Anjingku, anjingmu". 2010.
"KINTAMANI; Anjing Ras, Anjing Kampung". 2009.
Tommy Aditama Putra I Multiply I Facebook
Sindhu the Kintamani


No comments:
Post a Comment