
Jelas dirinya sendiri tahu apa yang dirasakannya sejak saat itu. Ada letupan yang bergejolak. Hangat. Ada sesuatu yang harus disampaikan, diungkapkan, entah bagaimana, entah kapan saat itu tiba.
Seiring waktu berjalan. Ada hari-hari yang dilewatinya bersama dengan perempuan itu, walaupun tidak banyak, dan tidak ada yang benar-benar berarti. Serba singkat, namun tetap terasa menyenangkan bagi dirinya. Semua terekam, walau samar.
. . . . . . .

Setahun berlalu, mendadak langkahnya terhenti. Seperti terjatuh, dalam. Banyak hal positif yang dilakukannya saat berkali-berkali dia mencapai titik kegundahannya, pun, seperti senang menyakiti diri sendiri; tidak secara fisik. Lebih dalam lagi, ada bagian di dirinya yang terluka. Namun dia menikmatinya. Ya, semakin sakit, rasa itu semakin menjadi adiksi. Semakin dicarinya.
Berkali-kali dia coba melupakaan perempuan itu dengan memiliki perempuan lainnya, berkali-kali juga berjalan singkat. Seperti membohongi dirinya sendiri. Perasaan yang begitu mendalam, muncul, sewaktu-waktu sejalan dengan letupan birahi. Di lain sisi, itu juga akan menjadi luka bagi perempuan-perempuan yang pernah bersamanya. Dia sadar betul dengan hal itu. Dia pun terluka. Namun berkali-kali pula dia menikmati luka itu.
Cukup banyak luapan yang dihasilkan dari proses adiksi itu. Laki-laki itu berhasil memvisualisasikannya, menuliskannya; alih-alih buku antologi bahasa, dia berhasil menyelesaikan prosa pribadinya bersama dengan beberapa kolega dekatnya --yang tidak pernah diterbitkan untuk umum. Tentunya, sekali lagi, perasaannya tidak pernah tersampaikan.

Suatu kali, bahkan, visualisasi yang tercipta begitu nyata, pencahayaannya tertangkap. Seorang perempuan berwarna merah-hitam, terikat, terbalut kain perban putih menumpuk-menutupi sebagian besar tubuhnya. Visualisasi yang indah -namun gelap. Kesan yang begitu ambigu mengenai apa, siapa yang terbebani. Siapa yang terikat, apa, atau siapa yang tidak dapat melepaskan dirinya -itu sudah tidak berarti penting lagi. Yang pasti, adrenalinnya mendidih, berjalan singkat. Luapan emosinya terbentuk.
Jika saja tepat saat itu dirinya tidak sedang dalam kondisi tubuh terserang flu berat secara harfiah, mungkin momen prosesi itu akan menjadi salah satu jurnal terindah sepanjang hidupnya. Ya, dan lagi, emosinya bisu kembali. Perasaannya lagi-lagi tak pernah tersampaikan. Kekagumannya hanya terbatas pada pandangan diam.
. . . . . . .

Tahun 2006. Akhirnya laki-laki itu bukan lagi berjalan di tempatnya yang dulu. Kali ini dia telah bersama dengan perempuan lain lagi. Sesosok perempuan alfa berambut panjang yang berjiwa besar. Pandangannya tajam dan luas. Bersamanya, saling berbagi waktu dan energi, cukup bisa membuatnya melupakan masa lalu. Secara keseluruhan? Untuk sekian waktu laki-laki itu sempat menyangsikan dirinya sendiri.
. . . . . . .
Setahun setelahnya, perempuan berbalut perban putih, akhirnya pergi tanpa pesan. Suatu waktu yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh laki-laki itu.
. . . . . . .
Laki-laki itu, telah sejak lama terus menduduki tempat dimana dia bisa mengamati sang wanita ber-perban putih. Tanpa sadar, dia telah menciptakan dunia bagi dirinya sendiri.

Apa kabar dirinya? Oh ya, dia baik-baik saja.
Sudahkah dia bersama laki-laki lain? Oh tidak, belum.
Adakah perempuan itu mempertanyakan kabar dirinya? Tentu saja tidak. Tidak tahu.
Apa kabarkah dirinya? Sudahkah dia bersama laki-laki lain? Bagaimana kabar dirinya? Adakah laki-laki lain bersamanya? Terus, dan terus berulang-ulang. Sepanjang waktunya.
Jawaban yang laki-laki itu temukan setelah berwaktu-waktu, menjadi kanker di hatinya sendiri. Emosi yang terus mengganjal. Hasrat yang menggantung. Dan yang paling mendasar, perasaannya yang bahkan tidak pernah terlisankan, oh tuhan, betapa memalukannya.
. . . . . . .

7 tahun lebih sedikit, berlalu, semenjak pertemuan pertamanya dulu;
Laki-laki itu bahkan masih dalam petualangan emosinya bersama dengan sang perempuan alfa. Tulisan jurnalnya cukup tertata dengan baik. Letupan demi letupan hasrat duniawi yang telah dilalui berhasil membawanya ke dalam ruang kehangatan yang lain, positifitas-polusi yang lebih menyehatkan. Dirinya bisa dibilang sudah pada titik puncak dalam menghapus sosok sang perempuan berbalut perban putih. Ironisnya, rutinitas dalam duduk dan mengamati perempuan itu sesekali masih tetap dijalankannya. Adakah perempuan berbalut perban putih itu mempertanyakan kabar dirinya? Sudah barang tentu tidak. Bagaimana kabar dirinya? Bagaimana perjalanan jurnal hidupnya?
Merupakan salah satu kebodohan terbesar bagi laki-laki itu dengan terus mencari tahu jawaban untuk semua pertanyaannya sendiri; pada waktunya, perempuan berbalut perban putih menjawab dalam keheningan. Begitu nyata. Begitu hangat. Ungkapan yang begitu logis, manusiawi, tetap dalam bisu. Elegi yang tercipta begitu ironi.

Ada kegetiran mendalam yang dirasakan oleh laki-laki itu. Rutinitasnya selama bertahun-tahun -dimana sebenarnya dia pun menyesalkan kondisi itu- demi mempertanyakan sosok sang perempuan berbalut perban, kali ini sepertinya sudah tidak perlu lagi dia jalankan. Semua telah terjawab dengan lugas. Laki-laki itu, seketika, menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskannya. Berkali-kali. Hembusan paru-parunya yang kotor menerbangkan segala bentuk kanker ilusif yang nyatanya tidak sepenuhnya berhasil dengan cepat.
Ada perasaan gundah. Ada perasaan lega. Ya, dia memang ter-adiksi. Yang laki-laki itu perlukan adalah banal.

Laki-laki itu, sosok yang biasanya begitu sinis dalam menilai banyak hal, begitu sarkas. Seseorang yang bahkan untuk kata ‘tuhan’, dia menuliskannya dengan awalan huruf kecil. Menghormati musuh-musuhnya dengan tangan kiri.
Dia membenci kata-kata cinta. Juga seorang yang anti dalam menulis puisi-prosa roman dan segala yang berhubungan dengan kekonyolan semacam itu; Kali ini dia harus mengakui, bahwa kali ini dirinya telah menuliskan, telah merangkumkan sebuah prosa cinta. Dari hatinya yang paling dalam.
Perasaan yang sejak 7 tahun lalu tercipta -dia yakini telah tersampaikan. Walaupun kini, dia tidak lagi memerlukan jawaban untuk semua itu. Bagaimanapun, dalam kebisuannya, laki-laki itu mengucapkan selamat.
Tertawa dalam diam,
September 2002 - Januari 2010.


No comments:
Post a Comment