back to main page

Tanggapan; "Seorang Warga Digigit Anjing ......" & "Wali Kota Bandung Larang ......"



Menanggapi artikel bertajuk "Seorang Warga Digigit Anjing Pit Bull di Dago Car Free Day" dan "Wali Kota Bandung Larang Warga Bawa Anjing Ke Car Free Day".

Car Free Day adalah event rutinan yang bermakna 'bebas polusi knalpot', dimana waktu-waktu tersebut adalah waktu yang tidak boleh dilewati oleh kendaraan bermotor di area-area yang telah ditentukan.

Di Bandung, selain banyaknya penghobi yang menjalankan aktifitasnya di area tersebut, bermunculan pula para penghobi anjing yang membawa anjing untuk berjalan-jalan; dari mulai anak kecil, kaum muda, hingga orang tua & keluarga. Dari mulai anjing-anjing kecil hingga besar. Semuanya bisa berasal dari berbagai kalangan ekonomi. Termasuk juga saya diantaranya, sebagai salah satu penghobi anjing.

Dengan alasan apa? Car Free Day adalah sarana umum. Anjing saya tidak berpolusi knalpot. Saya menjaga sikap saya dalam membawa anjing dan tahu bagaimana seharusnya saya menyikapi orang-orang yang tidak menyukai anjing tanpa harus bertindak merugikan. Demikian pula dengan banyak orang lain yang membawa anjing-anjingnya.

Logika umumnya, pada saat orang membawa anjingnya ke tempat umum, artinya, orang tersebut sudah mempertimbangkan aspek-aspek negatif yang mungkin terjadi, seperti kotoran misalnya.

Kenyataannya apa yang terjadi? Saya akui, masih banyak dari kalangan para penghobi anjing yang 'dianggap' masih lalai dalam menjaga anjingnya. Seperti kejadian baru-baru ini, seperti yang ditulis oleh Tya Eka Yulianti pada detikBandung (Minggu, 23 Januari 2011): "Seorang Warga Digigit Anjing Pit Bull di Dago Car Free Day", ditambah ilustrasi gambar, seekor anjing Pitbull bertubuh kekar nan dramatis.

Kenapa saya katakan dramatis? Sejauh ingatan saya dan beberapa teman sesama, tidak ada pemilik anjing Pitbull yang memiliki Pitbull seperti demikian yang pernah dibawa ke area Car Free Day. Terlebih lagi, tidak dituturkan secara rinci prihal apa dan bagaimana kejadiannya dari kedua belah pihak yang bersangkutan pada artikel tersebut. Apakah artikel tersebut bermakna provokasi, dengan mengambil foto yang bisa didapat dari internet dan bukannya hasil dari foto lokasi kejadian? Apakah artikel tersebut berupa wacana esai yang harus dituntaskan dengan baik atau justru bermaksud menyudutkan semua pihak penghobi anjing, itu pun tidak terjelaskan oleh penulisnya.

Pendapat saya, ini ironis. Dalam pandangan obyektif saya, begitu pendeknya penilaian orang terhadap anjing dan orang-orang yang memelihara anjing. Saat anjing menggonggong, orang ketakutan, lalu marah-marah ke pemiliknya atau mengumpat di belakang. Apakah anjing harus bisa berbicara seperti manusia dulu supaya tidak lagi ditakuti? Bukankah memang demikianlah cara anjing berkomunikasi?

Fakta lain, anjing tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Tapi, apakah publik yang tidak menyukai anjing peduli dengan fakta tersebut? Polisi memiliki divisi khusus yang melatih anjing-anjingnya menjadi 'senjata' yang berguna untuk masyarakat --lalu, apakah publik mempertimbangkan aspek-aspek tersebut dengan tidak hanya mengambil kesimpulan negatifnya saja?

Saya pun mengakui, masih banyak pemilik anjing yang memang tidak bertanggung jawab dengan anjingnya; seperti membuang kotorannya di jalanan --dan di saat yang sama, jalanan pun ditemui begitu banyaknya kotoran kuda.

Di area Car Free Day Bandung, salah satu kelalaian penghobi anjing adalah seringkali menghalangi jalan --dan di saat yang sama, hampir keseluruhan area tersebut terhalangi oleh orang-orang yang berdiam diri menikmati musik dari panggung-panggung yang bahkan juga menutupi trotoar.

Apakah sebegitu sinisnya publik dengan hewan tersebut, sehingga tidak lagi mau mendengar pendapat pemiliknya, terlebih dengan hanya berani berbicara di belakang saja?

Sejujurnya, saya tidak berminat untuk membahas terlalu jauh soal isi artikel bertajuk "Wali Kota Bandung Larang Warga Bawa Anjing Ke Car Free Day".

Kenapa saya tidak berminat? Publik mana yang tidak lelah melihat pemimpinnya berkoar-koar akan sesuatu yang bahkan pemimpin tersebut tidak melihat secara langsung, ataupun mendalaminya. Suatu tindakan yang percuma dari tanggapan yang tidak masuk akal, dengan membawa-bawa aspek ekonomi publik.

Publik seharusnya saling 'mendidik' dan bukannya saling mendiskriminasi atau mencari-cari selah kesalahan dengan berdiri di balik punggung 'orang kuat' untuk kemudian bisa menjatuhkan publik yang didiskriminasi. Sungguh suatu tindakan yang tidak bijak.

Di lain pihak, bagi para penghobi anjing; kejadian ini dapat menjadi evaluasi yang sangat berharga, dimana ketika berani memilih untuk memiliki anjing, sudah semestinya hal itu dibarengi dengan mendapatkan informasi yang cukup, tidak hanya sekedar memelihara sebagai gaya hidup semata.

Suatu kekonyolan yang luar biasa.


Salam budaya,
Bandung, 24 Januari 2011.

T.A. Putra.
Dog's Day Out Indonesia.

*detikBandung. Senin, 24/01/2011 16:58 WIB .

No comments:

Post a Comment